Logo KPT Ekraf 01- Fullcolor-01
MindWeave Telkom University

Pada tanggal 11–12 November 2025, KPT-Ekraf berpartisipasi dalam kegiatan MindWeave yang diadakan oleh Telkom University di Bandung. MindWeave merupakan acara interdisipliner yang menghubungkan riset akademik, inovasi kreatif, dan praktik UMKM. Kegiatan ini hadir sebagai ruang kolaboratif antara pelaku UMKM, akademisi, komunitas budaya, dan masyarakat luas untuk memperlihatkan keterhubungan antara tradisi dan inovasi dalam praktik industri wastra. Melalui pameran dan diskusi publik, kegiatan ini menjadi wadah pertukaran gagasan, praktik kreatif, serta refleksi terhadap makna dan masa depan wastra Indonesia di tengah era disrupsi dan ekonomi berbasis kreativitas. Pada kegiatan ini KPT-Ekraf mengirimkan beberapa perwakilan dari perguruan tinggi anggota, yaitu ISI Yogyakarta dan Universitas Indonesia (UI).

Keterlibatan ISI Yogyakarta bukan hanya sebagai institusi akademik, tetapi juga sebagai pusat pengembangan pengetahuan dan praktik artistik yang berperan strategis dalam bidang pendidikan seni dan desain. Melalui Jurusan Kriya dan Desain Mode-Kriya Batik, ISI Yogyakarta telah lama berkomitmen mengkaji, melestarikan, dan mengembangkan wastra Nusantara dalam berbagai perspektif mulai dari pendekatan tradisional hingga eksplorasi kontemporer.

Pada kegiatan ini ISI Yogyakarta yang diwakilkan oleh Dr. Arif Suharson, S.Sn., M.Sn. bersama mahasiswa Jurusan Kriya, Prodi S1 Kriya ( Aurelia Amanda L.A) dan D4 Desain Mode Kriya Batik (Asiah Azkanisa) menyelenggarakan workshop pembuatan motif wastra dari limbah batik cap kertas. Hal ini merupakan salah satu inovasi berkelanjutan dalam pemanfaatan limbah menjadi sebuah ide dan nilai baru dalam pengembangan ekonomi kreatif. Workshop ini berfokus pada eksplorasi material limbah kertas sebagai wujud penerapan sustainability material terbarukan yang ramah lingkungan dan berdaya guna tinggi. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya inovasi dalam penciptaan motif wastra Nusantara, tetapi juga menegaskan pentingnya kesadaran ekologis dalam praktik kriya modern.

Selain kegiatan workshop, Dr. Arif Suharson, S.Sn., M.Sn. juga berperan sebagai narasumber dalam talkshow bertema “Tradisi dan Inovasi dalam Wastra Nusantara: Menenun Nilai, Menganyam Inovasi Berbasis Artefak Budaya untuk Ekonomi Kreatif Indonesia.” Dalam sesi tersebut, beliau mengulas dinamika antara pelestarian tradisi dan inovasi kreatif dalam pengembangan industri wastra nasional, serta menekankan pentingnya riset berbasis artefak budaya sebagai sumber inspirasi desain. Sebagai bagian dari presentasi akademik dan artistik, turut dihadirkan pula karya-karya wastra hasil tugas akhir mahasiswa Jurusan Kriya ISI Yogyakarta, yang menampilkan ide penciptaan berbasis artefak budaya Indonesia. Karya-karya tersebut menjadi bukti konkret bagaimana warisan budaya dapat ditransformasikan menjadi ekspresi visual yang relevan dengan semangat ekonomi kreatif Indonesia yang berkelanjutan dan inovatif.

Selain perwakilan dari ISI Yogyakarta, KPT-Ekraf juga mengirimkan tim Rempah Ekor dari Vokasi Universitas Indonesia. Partisipasi Rempah Ekor dalam kegiatan ini difasilitasi oleh KPT Ekraf dan MATRIK Vokasi UI sebagai bentuk implementasi pengembangan Intellectual Property (IP) dalam ekosistem pendidikan tinggi dan industri kreatif. Rempah Ekor hadir sebagai IP berbasis fantasy-eduplay yang menghadirkan kehangatan budaya Nusantara melalui petualangan empat kucing bersaudara yang mengenalkan dunia rempah dan masakan Indonesia dengan sentuhan sains dan logika ringan, lucu, dan sarat makna edukatif.

Booth Rempah Ekor menampilkan animasi singkat pengenalan karakter, dan berbagai merchandise, seperti giant plushie, key chain plushie, mini pillow, sling strap, pin, tumbler, lanyard, enamel mug, standee acrylic dan sticker calendar. Semua merchandise menghadirkan karakter empat kucing bersaudara, yaitu Jahe (rempah inspirasi: Jahe) yang berkarakter hangat, Ica (rempah inspirasi: Merica) yang berkarakter selalu bersemangat, Ten-ten (rempah inspirasi: Jinten) yang berkarakter bijak, dan Unyit (rempah inspirasi: Kunyit) yang berkarakter ceria dan berani.

Sepanjang pameran, Booth Rempah Ekor di acara MindWeave tidak hanya menjadi titik diskusi aktif, tetapi juga berfungsi sebagai living lab, yaitu tempat dimana IP diuji, dinilai, dibaca potensinya, bahkan dikembangkan berdasar insight dari audiens. Pengunjung mayoritas terdiri dari para akademisi seperti Dosen desain produk, Dosen design preneur, peneliti dari berbagai bidang, dan mahasiswa. Dialog yang hidup di booth Rempah ekor sangat aktif mendiskusikan ide, narasi, world building, proses kreatif, engagement strategy, monetisasi, serta manajemen IP, sehingga terjadi transfer knowledge.

Dari sisi pengembangan, muncul ide kolaborasi lanjutan. Karena tema MindWeave adalah wastra, Rempah ekor terinspirasi untuk mengembangkan narasi tentang pewarna alami wastra berbasis rempah. Berjejaring dengan penggiat UMKM lainnya di acara tersebut membuat kami terpatik untuk bisa mengembangkan kolaborasi seperti pembuatan motif batik Rempah Ekor bersama Batik Griya Difabel, pengembangan apron dan produk edukatif yang berpadu dengan budaya lokal. Diskusi-diskusi ini memperkuat pemahaman bahwa kekuatan IP terletak pada narasi dan dunia yang dibangun secara konsisten (world building). Potensi ekspansi juga sangat terbuka pada berbagai medium, seperti komik digital, animasi, game, board game, event dan lainnya. Tidak hanya berhenti sampai di merchandise saja. Merchandise menjadi titik lompatan pertama Rempah ekor ke medium selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *