Logo KPT Ekraf 01- Fullcolor-01
Consortium Summit CCSIC 2026

BANDUNG, 24 September 2026 – Konsorsium Perguruan Tinggi Ekonomi Kreatif (KPT Ekraf) resmi menyelenggarakan Creative Consortium Summit & Innovation Challenge (CCSIC) 2026 bertempat di Design Centre, Gedung Centre for Art, Design and Language (CADL), Institut Teknologi Bandung (ITB). Pertemuan nasional ini menjadi ruang konsolidasi pengetahuan, pengalaman, dan kolaborasi antara insan akademisi, pemerintah, pelaku industri, komunitas, hingga jejaring kota kreatif dalam merumuskan arah masa depan ekonomi kreatif Indonesia.

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian Road to World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026. Melalui forum ini, seluruh pemangku kepentingan berkumpul untuk memperkuat jejaring sekaligus menyelaraskan langkah dalam menghadapi dinamika dan perubahan global di sektor kreatif.

Pemberian Apresiasi Pemenang Innovation Challenge 2026

Sebagai bagian dari rangkaian acara puncak, Menteri Ekonomi Kreatif RI, Teuku Riefky Harsya secara langsung menyerahkan penghargaan kepada para pemenang Innovation Challenge 2026. Kompetisi ini berhasil melahirkan 7 karya inovatif terbaik dari berbagai perguruan tinggi dan unit kreatif di Indonesia:

  1. Cluster Desain Produk/Material (Kategori Creativepreneur): Bio Teraso Sekam Padi (CV Beska Loka)
  2. Cluster Kriya - Figur Artikulasi Modular (Kategori Student Start-Up): Modufig (Universitas Katolik Parahyangan)
  3. Cluster Fashion - Beskap Denim (Kategori Student Start-Up): The Living Heritage (Universitas Katolik Parahyangan)
  4. Cluster DKV - Content Digital (Kategori Student Start-Up): JEJAK: Jelajah Dayak Kenyah (President University dan Institut Teknologi Kalimantan)
  5. Cluster Desain Produk - Penyangga Lengan Pengrajin (Kategori Student Start-Up): LeGawangan: Inovasi Perancangan Furnitur Ergonomis demi Mencapai Produktivitas dan Work Ease Industri Kreatif (Institut Teknologi Bandung)
  6. Cluster Aplikasi - Keuangan Digital UMKM (Kategori Student Start-Up): Rancangan Mockup Aplikasi Financial Advisor Berbasis Kecerdasan Buatan (Universitas Katolik Parahyangan)

Arah Kebijakan dan Poin Utama Keynote Menteri Ekraf
Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Teuku Riefky Harsya hadir menyampaikan Keynote Speech mengenai arah kebijakan pengembangan ekonomi kreatif nasional sekaligus memaparkan gagasan utama dalam Draft Jakarta Vision.

Dalam pemaparannya, Menteri Ekraf menekankan beberapa poin kunci:

  • Penguatan Landasan Strategis Menuju WCCE 2026: Dokumen Jakarta Vision disiapkan sebagai acuan strategis nasional dan diplomasi global Indonesia untuk menyuarakan kepentingan sektor ekonomi kreatif, khususnya bagi negara-negara berkembang.
  • Peran Kunci Perguruan Tinggi: Pendidikan tinggi diposisikan sebagai pilar utama riset, inovasi, dan penciptaan sumber daya manusia yang responsif terhadap kebutuhan industri dan perkembangan teknologi.
  • Perlindungan Kekayaan Intelektual dan Keadilan Ekonomi: Pemerintah berkomitmen memperkuat ekosistem Kekayaan Intelektual (KI/IP), akses pembiayaan, serta perlindungan hak-hak para pelaku kreatif agar mampu bersaing secara adil di pasar nasional maupun global.

Merespons Latar Belakang dan Dinamika Ekonomi Kreatif
Perkembangan ekonomi kreatif saat ini berlangsung di tengah perubahan yang semakin kompleks. Kehadiran kecerdasan artifisial (artificial intelligence), transformasi digital, isu Hak Kekayaan Intelektual (HKI), keadilan ekonomi, keberlanjutan lingkungan, inklusivitas, serta pemberdayaan masyarakat telah mengubah secara mendasar cara karya diciptakan, diproduksi, didistribusikan, diapresiasi, dan dipertukarkan secara ekonomi.

Dalam merespons perubahan tersebut, perguruan tinggi memiliki peran yang sangat strategis melalui pendidikan, penelitian, penciptaan karya, pengabdian kepada masyarakat, serta kemitraan dengan pemerintah, industri, dan komunitas. Kolaborasi lintas sektor diperlukan agar inovasi yang lahir tidak berhenti pada kemajuan teknologi dan pertumbuhan angka ekonomi semata, tetapi juga menjaga nilai-nilai budaya, melindungi hak pencipta, menjaga keberlanjutan lingkungan, serta berpihak pada kesejahteraan masyarakat

Menjawab Isu Strategis Sektor Kreatif
Forum nasional ini secara khusus berfokus untuk menjawab isu strategis utama: bagaimana seni, desain, teknologi, dan ekonomi kreatif dapat berkembang secara inovatif tanpa kehilangan keadilan, keberlanjutan, hak pencipta, nilai budaya, dan keberpihakan kepada masyarakat.

Melalui penelaahan Draft Jakarta Vision, para akademisi, peneliti, dan praktisi merumuskan sejumlah langkah nyata:

  1. Keberlanjutan dan Kearifan Lokal: Mengangkat riset material lokal dan pemberdayaan komunitas sebagai pilar ekonomi kreatif berbasis circular/regenerative design yang ramah lingkungan
  2. Pengambilan Keputusan Berbasis Data (Data-Driven): Menyelaraskan perancangan kebijakan intervensi pemerintah dengan dinamika riil di lapangan serta dukungan data yang akurat.
  3. Penguatan Ekosistem KI dan Pembiayaan: Mendorong skema komersialisasi KI yang adil, penyediaan secondary market, serta kepastian regulasi pembiayaan berbasis KI.
  4. Penyelarasan Kurikulum dan SKKNI: Memastikan kurikulum perguruan tinggi adaptif terhadap kebutuhan teknologi dan industri, sekaligus mendukung penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) demi kesejahteraan pekerja kreatif.


Sesi diskusi pemantik dalam Creative Consortium Summit (CCS) 2026 menghadirkan pandangan strategis mengenai penguatan ekosistem ekonomi kreatif Indonesia dari perspektif akademisi, komunitas, dan perencanaan pembangunan nasional. Dua pemantik utama, Dr. Dwinita Larasati, S.Sn., M.A. (Executive Committee ICCN & Kaprodi Magister Desain FSRD ITB) serta Wahyu Wijayanto, S.I.P., M.A. (Direktur Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Ekonomi Digital, Bappenas), memberikan perspektif komprehensif mengenai kolaborasi hexahelix dan pentingnya perancangan kebijakan berbasis data (data-driven).

Integrasi Jejaring Komunitas, Perguruan Tinggi, dan Perencanaan Nasional

Dr. Dwinita Larasati menggarisbawahi peran strategis jejaring kota kreatif (seperti UNESCO Creative Cities Network dan Indonesia Creative Cities Network/ICCN) serta pentingnya aksesibilitas informasi hingga ke tingkat daerah. Beliau menekankan bahwa kolaborasi lintas elemen (Hexahelix) melalui tiga tahap utama—Connect, Collaborate, Commerce/Celebrate—menjadi kunci memetakan potensi lokal, membangun kapasitas pelaku kreatif daerah, dan mendorong produk inovatif masuk ke pasar global. Lebih lanjut, beliau menyoroti peran perguruan tinggi dalam merekayasa riset berbasis material serta kebudayaan lokal (seperti pelepah pinang, kotoran sapi, dan bambu) menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang bernilai sosial berkelanjutan, sekaligus menyuarakan aspirasi negara berkembang (Global South) di tingkat internasional melalui white paper akademik.

Sejalan dengan hal tersebut, Wahyu Wijayanto menyoroti peran Bappenas sebagai "dapur perencanaan nasional" dalam merumuskan intervensi pemerintah pada sektor ekonomi kreatif yang unik dan hasilnya sulit diprediksi (hard to predict). Beliau menekankan pentingnya pengintegrasian dokumen strategis seperti Draft Jakarta Vision ke dalam kerangka perencanaan pembangunan nasional (RPJPN dan RPJMN) guna mencapai target kontribusi ekraf sebesar 11% terhadap PDB nasional pada tahun 2045. Melalui penggabungan pendekatan teknokratis, aspirasi bottom-up komunitas, dan proses politik, Bappenas berfokus pada penguatan komersialisasi Kekayaan Intelektual (KI), pembentukan secondary market, serta penyusunan acuan standar biaya dan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) bersama kementerian dan asosiasi terkait demi menjamin kelayakan tarif dan kesejahteraan pekerja kreatif.

Komitmen Bersama Menuju WCCE 2026

Creative Consortium Summit 2026 menegaskan komitmen KPT Ekraf beserta seluruh pemangku kepentingan untuk menghasilkan kontribusi pemikiran yang konkret. Hasil diskusi dan rekomendasi dari forum ini akan disalurkan sebagai masukan resmi terhadap Jakarta Vision guna memperkuat posisi Indonesia pada gelaran WCCE 2026 mendatang.

Melalui sinergi hexahelix yang setara dan berkelanjutan, ekonomi kreatif Indonesia diharapkan tumbuh menjadi ekosistem yang inovatif, berdaya saing global, inklusif, adil, serta berakar kuat pada nilai-nilai kebudayaan bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *